INTELEKTUAL ORGANIK GRAMSCI PDF

Goll I make each one liable: Culture reflects the character of a nation. Trivia About Masyarakat Sipil. Preview — Masyarakat Sipil by Mansour Fakih. Jurnal Transformasi Sosial 1 — 10 of 42 books. The author conducted research on counter-hegemony by the Zulu Nation presented by Afrika Bambaataa through itnelektual Renegades of Funk lyrics. Hasil studi mengungkapkan bahwa teori hegemoni Gramsci sangat erat kaitannya dengan studi budaya.

Author:Tolkree Moogukus
Country:Moldova, Republic of
Language:English (Spanish)
Genre:Technology
Published (Last):7 July 2008
Pages:303
PDF File Size:7.8 Mb
ePub File Size:17.44 Mb
ISBN:614-8-75509-525-7
Downloads:45368
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Yozshuhn



Latar belakang ini tentu mempengaruhi Gramsci dalam melahirkan pemikiran-pemikirannya. Antonio Gramsci atau lebih dikenal Gramsci adalah seorang Marxis Italia. Gramsci awalnya adalah seorang wartawan. Pemikiran Gramsci sangat dipengaruhi oleh filosof besar Italia Benedetto Croce. Dari Croce Gramsci belajar menghargai ilmu sejarah sebagai usaha Intelektual untuk mencakup moralitas, politik, dan seni.

Namun kemudian Gramsci mengkritik bahwa Croce berhenti pada pengertian teoritis demokrat-liberal yang tidak berani menarik konsekuensi untuk praxis revolusioner. Magnis Suseno, Gramsci yang berpijak pada tradisi Marxis, dijatuhi hukuman penjara oleh rezim fasis Mussolini. Di dalam penjaralah ia mencatat dan mengahsilkan tulisan-tilsan yang kemudian dibukukan Selection from the Prison Notebooks.

Banyak hal yang ditulis oleh Gramsci ketika ia di penjara, salah satunya adalah analisanya mengenai kelemahan dari masyarakat Italia dan kenapa sampai muncul fasisme. Gramsci memerankan peran kunci dalam transisi determinisme ekonomi menuju Marxian yang lebih modern. Jika Marx meyakini bahwa ideologi dan kesadaran palsu dari para buruh diakibatkan, dikreasikan dan dijaga oleh mereka yang mengontrol dan menguasai material dalam hal ini ekonomi atau determinisme ekonomi.

Kemudian kaum proletariat atau kaum yang tidak memiliki modal akan diam sampai pertentangan-pertentangan dalam masyarakat kapitalis semakin nampak, sehingga pada akhirnya mereka melakukan dan menuntut revolusi kepada para opresornya. Gramsci juga mengkritik para Marxis yang berusaha untuk menerapkan analisa Marx dan Engels sebagai kepastian ilmiah untuk menjelaskan hukum masyarakat.

Buku yang dimaksudkan sebagai buku teks tentang Marxisme Leninisme untuk partai komunis yang lebih tinggi. Ada beberapa kritik Gramsci terhadapa Bukharin Magnis-Suseno, , yaitu: Buku tersebut bermaksud untuk membuat kaum proletar memahami pokok-pokok ajaran komunis, membentuk pemahaman mereka terhadap komunisme.

Kritik Gramsci kemudian adalah, ia menyatakan bahwa tugas kaum intelektual bukan menyampaikan ide-ide mereka yang sudah jadi kepada masyarakat melainkan bertolak pada sesuatu yang sedang dipercayai dan diyakini oleh masyarakat sendiri. Titik tolak segala usaha untuk mewujudkan kesadaran politik yang tepat adalah apa-apa yang sesungguhnya merupakan kesadaran proletariat.

Gramsci menolak bahwa ada teori objektif yang benar pada seluruh aspek. Menurutnya sebuah teori selalu hanya benar jika mengungkapkan apa yang sedang dialami oleh kelas sosial yang bersangkutan.

Dengan kata lain, teori tidak dapat dilepaskan dari praxis. Teori dan Praxis merupakan suatu kesatuan, di mana teori merumuskan dalam konsep-konsep apa yang dirasakan sebagai kebutuhan dan dorongan oleh masyarakat. Sesuai penolakan di atas, Gramsci juga menolak Materialisme yang menurut Engels dan Lenin merupakan pandangan dasar Marxisme. Dengan materialisme sebagai ajaran tentang seluruh hakikat seluruh realitas maka materialisme termasuk positivistic dan naturalistik. Ia menolak bahwa jalan sejarah sudah pasti dan terdeterminasi.

Ia menolak bahwa kebudayaan ditentukan oleh hubungan-hubungan produksi. Gramsci juga berbeda pendapat dengan Bukharin tentang makna dan manfaat filsafat. Jika Bukharin menyatakan bahwa filsafat adalah analisa teoritis atas dasar ilmu-ilmu alam. Bagi Gramsci filsafat muncul dalam dua bentuk, yaitu dalam pemikiran kaum intelektual dan dalam bentuk akal sehat masyarakat.

Filsafat membuka cakrawala tindakan yang akan mengubah masyarakat. Oleh karena itu kita dapat memahami mengapa Marxisme menurut Gramsci harus bertolak dari apa yang hidup dari hati dan pemikiran masyarakat.

Kesadaran merupakan faktor kunci bukan hanya sekunder. Pemikiran Gramsci Ketika membaca karya Gramsci maka kita akan memfokuskan diri pada konsep hegemoni. Gramsci memiliki fokus untuk mengkombinasikan analisis dari ekonomi Marxis dan penekanannya pada proses politik dan kultur. Gramsci membangun konsep yang dapat menjelaskan kenapa beberapa kelompok mampu memiliki kekuasaan dan bagaimana kelompok yang berkuasa tersebut kemudian membangun dan menjaga kepemimpinan moral dan kepemimpinan budaya.

Berbeda pendapat dengan dengan determinisme ekonomi, Gramsci berpendapat bahwa hegemoni tidak otomatis berasal dari mereka yang memiliki dominasi ekonomi dari kelas yang berkuasa, tetapi adalah sesuatu yang harus dibangun dan diperjuangkan.

Karya Gramsci yang paling terkenal adalah tulisan-tulisannya semasa ia dipenjara oleh rezim fasis Mussolini. Seperti yang telah disampaikan di atas Gramsci adalah ketua partai komunis Italia sebelum ia dipenjarakan. Ia mengamati kekhasan situasi yang ada di Italia ketika itu. Gramsci menyatakan bahwa sekonomi bukanlah faktor utama dari perjalanan sejarah manusia, akan tetapi hubungan seseorang di dalam masyarakat, posisi seseorang dalam masyarakat, bagaimana seseorang kemudian mencari kesepakatan diantara sesamanya, dan kemudian membangun masyarakat berdasarkan kesepatakan tersebut.

Gramsci menolak bahwa ekonomi adalah satu-satunya faktor yang memainkan peran yang signifikan dalam masyarakat. Ia meyatakan harus dicapai keseimbangan antara kondisi ekonomi dan pembangunan kekuatan ekonomi, kebudayaan dan ide. Gramsci mengakui bahwa ada sebuah keteraturan sejarah di dalam suatu masyarakat, tetapi ia menolak bahwa perkembang sejarah masyarakat adalah sesuatu yang otomatis dan tak terhindarkan.

Ia menyatakan agar revolusi terwujud maka masyarakat seharusnya bertindak, dan sebelum mereka bertindak mereka harus mampu memahami hakikat dan situasi keberadaan mereka dalam suatu sistem yang sedang mereka jalani. Gramsci mengakui arti penting faktor struktural, khususnya ekonomi akan tetapi ia tidak percaya hanya faktor-faktor inilah yang mengakibatkan masyarakat melakukan perlawanan.

Gramsci mengatakan perlu ada ide revolusioner yang mampu menggerakan massa. Ide revolusioner ini tidak hanya muncul dari masyarakat, tetapi harus ada yang mengembangkan dan menyebarkannya. Kemudian Gramsci menyatakan harus ada gagasan yang dibangun oleh para intelektual yang kemudian disebarluaskan ke masyarakat dan dipraktekan oleh mereka sendiri. Kalaupun mampu dan ada, mereka hanya dapat mengalami pada level keyakinan.

Masyarakat tidak dapat sadar dengan sendirinya, mereka harus dibantu oleh para elit sosial yang mempengaruhi mereka agar melakukan aksi yang mengarah kepada revolusi sosial.

Gramsci memokuskan pada gagasan kolektif dibanding pada struktur sosial seperti ekonomi yang menjadi basis dari kaum Marxian. Gramsci menghubungkan konstruksi hegemoni dengan perjuangan ideologi untuk memenangkan hati masyarakat. Peran krusial untuk memantapkan ideologi tersebut ada di intelektual.

Para intelektual tersebut harus mengakar di masyarakat. Gramsci adalah seorang Hegelian. Konsep besar Gramsci yang mencerminkan Hegelianismenya adalah konsep hegemoni. Ia percaya bahwa mereka yang ada di kelas kontrol itu hegemonik, yang bukan hanya mengontrol harta benda dan kekuasaan, tetapi juga ideologi masyarakat. Gramsci mendefinisikan Hegemoni sebagai kepemimpinan budaya yang dijalankan oleh pihak yang berkuasa.

Hegemoni berbeda dengan koersi yang dijalankan oleh pemilik kekuasaan baik eksekutif maupun legislatif. Selain itu yang membedakan Gramsci dengan pemikiran Marxian awal adalah jika Marxian awal memokuskan pada determisme ekonomi dan aspek koersif dari dominasi negara, maka Gramsci memokuskan pada hegemoni kepemimpinan budaya.

Konsep hegemoni membantu kita untuk memahami dominasi yang terjadi di masyarakat kapitalis. Dalam analisis kapitalismenya, Gramsci ingin mengetahui peranan para intelektual yang bekerja atas nama kapitalisme memperoleh kepemimpinan budaya serta sikap patuh dari massa.

Hegemoni dominan dari nilai dan norma kaum borjuis yang menguasai kelas subordinat. Kemudian Gramsci melihat peranan kunci intelektual komunitas dan partai komunis untuk mampu meraih kepemimpinan budaya terhadap seluruh masyarakat.

Dominasi dari kelompok sosial yang berkuasa tidak hanya diakibatkan oleh kondisi ekonomi mereka yang mendominasi, tetapi juga harus dikonstruksi dari kepemimpinan moral dan kepemimpinan budaya.

Hegemoni digunakan untuk menunjukan kekuasaan dari suatu kelas sosial atas kelas sosial lainnya dalam hal ini penguasaan dari kelas borjuis terhadap kelas proletar. Hegemoni seperti yang telah dinyatakan diatas bukan saja dalam masalah ekonomi dan politik saja. Sehingga pada akhirnya kelas yang terhegemoni akan mengikuti cara pandang yang dilakukan oleh kelas yang berkuasa sebagai sesuatu yang biasa. Kemudian bagaimana kelas yang berkuasa tersebut menjaga hegemoninya?

Hal ini dapat dilakukan melalui masyarakat sipil. Misalnya dengan memciptakan suatu konsensus kultural dan politik melalui serikat pekerja, partai politik, sekolah media, tempat ibadah dan berbagai organisasi sukarela. Salah satu konsep pendidikan yang menarik dari Gramsci adalah pemikirannya mengenai pendidikan.

Gramsci menyatakan agar kelas pekerja dapat melakukan counter hegemony dan mendapatkan kepemimpinan hegemoninya, maka mereka harus mendapatkan pendidikan agar kelak dapat menciptakan para cendikiawan yang mampu menciptkan ideologi baru yang mampu membawa perbaikan kehidupan kelas pekerja.

Counter hegemony harus dilakukan oleh kaum intelektual organik yang muncul dari kelas pekerja yang kemudian membuat perubahan politik melalui partai yang revolusioner. Para intelektual organik ini kemudian mematahkan dominasi dari kaum borjuis dan menciptakan konsep baru mengenai masyarakat berdasarkan konsepsi kaum proletar bukan kaum borjuis.

Kaum intelektual organik ini muncul dari kalangan kelas pekerja itu sendiri. Menurutnya kaum intelektual organik berbeda dengan kaum intelektual tradisional yang cenderung mengisolasikan diri dalam masyarakat dan membentuk sebuah lapisan tersendiri yang mengambang di atas masyarakat.

Kaum intelektual organic mengungkapkan kecenderungan-kecenderungan objektif dalam masyarakat dan berpihak kepada kaum pekerja. Seperti Lenin, Gramsci menyatakan bahwa revolusi sosialis dan keberhasilannya tidaklah terjadi secara otomatis.

Revolusi akan terjadi jika benar kaum pekerja memiliki keinginan yang kuat untuk melaksanakannya. Berbeda dengan konsepsi Lenin mengenai partai politik -walaupun Leninlah yang menyadarkan peran kunci dari partai politik- yang menyatakan bahwa partai politik harus dipimpin oleh sekelompok orang yang merupakan sekelompok kecil orang-orang yang menguasai teori revolusioner dan seakan-akan berasal dari luar kalangan kaum pekerja yang memberikan penyadaran kepada kaum pekerja, dan kaum pekerja akan mengikuti partai tersebut.

Gramsci berpendapat bahwa partai politik tidak berada di atas kaum pekerja tetapi berada di dalam kaum pekerja tersebut dan mengangkat dan membuat sadar tujuan dan misi kelas buruh itu sendiri. Partai diperlukan untuk pendidikan buruh dan untuk mengorganisasikan perjuangan mereka. Kemudian Gramsci menyatakan bahwa tugas awal dari partai revolusioner adalah merebut hegemoni sipil.

Melalui perang posisi dan revolusi pasiflah partai mengusahakan perubahan kesadaran masyarakat dan membuat kelas-kelas sosial lain mau menerima nilai-nilai moral dan cultural kaum pekerja.

Apabila kaum pekerja sudah memapankan kepemimpinan intelektual dan moralnya maka sesungguhnya mereka sudah memiliki hegemoni dan memiliki kuasa. Hal ini karena kaum buruh sudah didukung oleh kelas-kelas sosial lainnya. Gramsci mengemukakan bahwa tidak perlu mengandalkan kekerasan fisik dan unsur paksaan untuk merebut kekuasaan seperti yang dilakukan oleh kaum komunis di Rusia.

Hegemoni yang disampaikan oleh Gramsci bukan sekedar memastikan bahwa kaum pekerja lebih berkuasa dibandingkan kelas lain yang menjadi sekutunya, melainkan suatu kekuasaan berdasarkan suatu konsensus sungguh-sungguh. Perebutan kekuasaan tidak berarti dengan melakukan penindasan para musuh yang kontra revolusi, melainkan perebutan hati dan pikiran masyarakat oleh pandangan dunia, nilai-nilai dan keyakinan kaum buruh Magnis-Suseno, Referensi Magnis Suseno, Frans. Bantul: Kreasi Wacana. Turner, Jonathan H.

Wardsworth Publishing Company. Share this:.

LOW FAT LOVE PATRICIA LEAVY PDF

Antonio Gramsci dan Intelektual Organik

Oleh karena itu diperlukan kelompok intelektual dan partai revolusioner untuk mewujudkan sosialisme. Dengan demikian maka adalah sesuatu yang amat penting sekali bahwa keberadaan kaum intelektual bukanlah di menara gading, elitis, melainkan harus menyatu dan berada di sisi kaum buruh. Demikian juga partai politik, tidak bertugas menyuntik ke dalam diri kelas buruh suatu kesadaran yang benar, melainkan membuat mereka sadar akan implikasi kesadaran yang sudah mereka miliki serta segi-segi perjuangan. Hal ini semua karena terkait dengan upaya kaum buruh untuk menancapkan hegemoni kultural dan ideologis sebelum memulai perebutan kekuasaan politik. Karena Dalam pandangan Gramsci perubahan sosial bukanlah semata-mata upaya menyangkut masalah kekuatan ekonomi dan fisik, tapi juga melibatkan perebutan wilayah kebudayaan dan ideologi: suatu upaya masyarakat bawah untuk membebaskan diri mereka dari budaya kaum borjuis dan untuk membangun nilai budaya mereka sendiri bersama-sama dengan kaum tertindas dan lapisan intelektual yang berpihak. Dalam konteks inilah bisa dikatakan bahwa supremasi intelektual merupakan prakondisi tercapainya kekuasaan politik Leszek Kolakowski,

KRONES CONTIROLL PDF

'+relatedpoststitle+'

Karena itu diperlukan kelompok intelektual dan partai revolusioner utk mewujudkan sosialisme. Dgn demikian adalah sesuatu yg amat penting sekali bahwa keberadaan kaum intelektual bukanlah di menara gading, melainkan harus menyatu dan berada di sisi kaum marjinal buruh, kaum miskin kota. Demikian juga partai politik, tidak bertugas menyuntik ke dalam diri kelas kaum marjinal suatu kesadaran yg benar, melainkan juga harus membuat mereka sadar akan implikasi kesadaran yg sdh dibangun dan mereka miliki serta segi-segi perjuangan. Semua ini terkait dgn upaya kaum marjinal untuk menancapkan hegemoni kultural dan ideologis sebelum memulai perebutan kekuasaan politik.

ASTM D1400 PDF

Mahasiswa dalam Perspektif Gramsci

Dalam tekad proletariat menumbangkan kekuasaan kaum borjuis oleh kaum revolusioner yang terkadang gagal dalam setiap upaya mewujudkan revolusi. Maka gramsci menilai perlu adanya sekolompok Intelektual yang bersenergi dengan partai revolusioner demi tercapainya tujuan merebut kekuasan. Dengan demikian menurut gramsci kaum intelektual bukannya berada diatas pegunungan yang menjulang tinggi dan berjauhan dengan para kaum buruh akan tetapi menurut gramsci para kaum intelektual semestrinya berada ditengah kaum buruh dengan maksud jika partai politik buruh tidak efesien dalam memasok Ideologi Perjuangan di setiap kepala para buruh, maka tugas kaum intelektual adalah menutup celah tersebut sebagai upaya membentuk pemahaman kolektif sebelum memperjuangkan kekuasaan yang dimiliki kaum borjuis. Tentu pada dunia sekarang ini yang dikuasai oleh hegemoni kapitalisme neoliberalisme yang merajalela maka tentu penting bagi setiap parta politik atau politisi dan para intelektual modern untuk mengkonsumsi pemikiran gramsci. Gramsci memperkenalkan atau menamakan kaum intelektual yang dimaksud dengan Intelektual Organik. Kata intelektual sendiri tentu memiliki makna yang sekarang dipahami sebagai kelompok yang secara formal mengeyam pendidikan dan memiliki jenjang yang terbilang tinggi.

Related Articles