CULTURAL STUDIES TEORI DAN PRAKTIK CHRIS BARKER PDF

Posted on January 31, Leave a comment Berbicara tentang cultural studies atau yang kita kenal sebagai studi kajian budaya, perhatian kita tidak dapat dilepaskan dari The Birmingham Center for Contemporary Cultural Studies yang dipelapori Richard Hoggart dan Raymond Williams. Intitusi yang didirikan pada ini memang tidak dapat dipisahkan dari kedua nama pendirinya tersebut. Hoggart dan Williams adalah pengajar sastra pada program-program ekstramural, yang membuat kajian tentang bentuk-bentuk dan ekspresi budaya yang mencakup budaya tinggi maupun rendah, dan mengemukakan sejumlah teori tentang kaitan antara keduanya sebagai formasi sosial historis Budianta, Cultural studies itu sendiri mempunyai beberapa definisi sebagaimana dinyatakan oleh Barker via Storey, , antara lain yaitu sebagai kajian yang memiliki perhatian pada: 1 hubungan atau relasi antara kebudayaan dan kekuasaan; 2 seluruh praktik, institusi dan sistem klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan hidup, dan bentuk-bentuk perilaku yang biasa dari sebuah populasi; 3 berbagai kaitan antara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras, kelas, kolonialisme dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang bisa digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan; dan 4 berbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan-gerakan sosial dan politik, para pekerja di lembagalembaga kebudayaan, dan manajemen kebudayaan. Sejarah Studies Cultural Kajian budaya sebagai suatu disiplin ilmu akademik yang mulai berkembang di wilayah Barat an , seperti Inggris, Amerika, Eropa kontinental , dan Australia mendasarkan suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka. Pada tahap kelanjutannya di era awal abad 21 kajian budaya dipakai di wilayah Timur untuk meneliti dan menelaah konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi kajian budaya Barat, antara lain Afrika, Asia, atau Amerika Latin.

Author:Kagashakar Tokora
Country:Algeria
Language:English (Spanish)
Genre:Medical
Published (Last):9 June 2016
Pages:18
PDF File Size:13.40 Mb
ePub File Size:1.14 Mb
ISBN:308-4-32541-414-3
Downloads:45638
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kajitaur



Caesar Syarif H. Latar Belakang Cultural studies merupakan paradigma baru dalam kajian ilmu sosial, memperkenalkan budaya dalam dimensi yang baru. Tidak hanya sebagai kreasi manusia dan hasil perilaku, tetapi menelaah pemahaman mendalam antara budaya dan kekuasaan yang mendasarinya. Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa saling berhubungan satu sama lain.

Untuk itulah peran komunikasi dibutuhkan. Dalam hidup bermasyarakat orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain niscaya akan terisolasi dari masyarakatnya.

Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah dikenal sangat heterogen dalam berbagai aspek, seperti: adanya keberagaman suku agama, bahasa, adat istiadat. Kajian ilmu komunikasi yang cenderung linier seperti di atas terasa mendapatkan angin segar dengan kehadiran kajian budaya, atau yang disebut cultural studies. Ada banyak orang yang membicarakan kebudayaan dengan berbagai aspeknya, tetapi tak banyak orang yang mampu mendefinisikan apa sesungguhnya kebudayaan itu dan mengapa kebudayaan demikian kuat memberikan pengaruh pada kehidupan manusia selama perjalanan hidupnya.

Tidak hanya di bidang ilmu komunikasi saja, cultural studies juga merambah bidang keilmuwan yang lain seperti psikologi, antropologi, linguistik ilmu politik hingga sains.

Kenapa bisa seperti itu? Dari uraian tersebut kami ingin sedikit menjelaskan mengenai pengertian dan ruang lingkup kajian budaya atau cultural studies. Cultural studies dibangun oleh suatu cara berbicara yang tertata perihal objek-objek yang dibawanya sebagai permasalahan dan yang berkumpul di sekitar konsep-konsep kunci, gagasan-gagasan dan pokok-pokok perhatian. Selain itu, cultural studies memiliki suatu momen ketika dia menamai dirinya sendiri, meskipun penamaan itu hanya menandai penggalan atau kilasan dari suatu proyek intelektual yang terus berubah.

Universitas Birmingham di Inggris pada tahun an. Sejak saat itu kajian budaya menjadi tradisi studi yang meluas di kalangan intelektual di negara-negara seperti Amerika, Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Eropa, dengan setiap informasi yang berbeda-beda objek kajiannya Barker, Sejak awal kemunculannya, kajian budaya menjadi semakin besar dan hasil-hasil studi yang dihasilkannya semakin meningkat.

Buku-buku teks tentang kajian budaya dan budaya populer dikalangan akademik tumbuh pesat. Dalam dunia yang sudah dipenuhi dengan images atau gambar-gambar, dan tulisan-tulisan yang ada di koran, televisi, film, video, radio, iklan, novel dan lain sebagainya, cara kita dan lingkungan sekitar kita ternyata bervariasi dan berbeda satu sama lain.

Pada kenyataannya, budaya kita sebenarnya juga dibentuk oleh media massa yang kita nikmati tiap harinya. Ruang Lingkup Cultural Studies Mengenai ruang lingkup kajian budaya diungkapkan secara jelas dalam Barker , yakni 1 relasi antara kebudayaan dan kekuasaan, 2 seluruh praktik, institusi, dan sistem klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan hidup, dan bentuk-bentuk perilaku yang biasa dari sebuah populasi, 3 pelbagai kaitan antara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras, kelas, kolonialisme dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang biasa digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan, dan 4 pelbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan sosial dan politik, para pekerja di lembaga kebudayaan, dan manajemen kebudayaan.

Karena cakupannya yang luas, di sini akan dipaparkan beberapa cakupan-cakupan tersebut. Cultural studies selalu meklaim terfokus pada isu kekuasaan, politik dan kebutuhan akan perubahan sosial. Sesungguhnya, cultural studies memiliki aspirasi untuk membangun jaringan dengan gerakan politik di luar akademi.

Jadi, cultural studies adalah setumpuk teori dan serangkaian tindakan politis, termasuk produksi teori sebagai praktik politis sebenarnya, praktik yang diunggulkan. Franklin et al. Walhasil, cultural studies dan feminisme sama-sama memiliki kepentingan substantif dalam isu kekuasaan, reprensentasi, kebudayaan pop, subjektivitas, identitas dan konsumsi.

Namun, dinyatakan bahwa audien pop menciptakan makna mereka sendiri melalui teks kebudayaan pop dan melahirkan kompetensi kultural dan sumber daya diskursif mereka sendiri. Kebudayaan pop dipandang sebagai makna dan praktik yang dihasilkan oleh audien pop pada saat konsumsi dan studi tentang kebudayaan pop terpusat pada bagaimana dia digunakan.

Argumen-argumen ini menunjukkan adanya pengulangan pertanyaan tradisional tentang bagaimana industri kebudayaan memalingkan orang kepada komoditas yang mengabdi kepada kepentingannya dan lebih suka mengeksplorasi bagaimana orang mengalihkan produk industri menjadi kebudayaan pop yang mengabdi kepada kepentingan. Kendati demikian, konsep tentang budaya yang mendasari cultural studies dapat ditemukan bermuara pada antropologi kultural, sebagaimana cultural studies itu sendiri.

Namun, kendatipun cultural studies tampaknya merupakan kajian yang paling sukar ditetapkan batas-batasnya, tidak berarti segala sesuatu dapat masuk menjadi bahasan cultural studies. Sardar dan Van Loon merinci karakteristik cultural studies CS sbb. Tujuan tetapnya adalah mengungkapkan hubungan tersebut mempengaruhi dan membentuk praktik kebudayaan.

Tujuannya adalah memahami budaya dalam segala bentuk kompleksnya dan menganalisis konteks sosial dan politik tempat budaya mengejawantahkan dirinya.

CS bertujuan, baik usaha pragmatis maupun ideal. CS mengasumsikan suatu identitas bersama dan kepentingan bersama antara yang mengetahui dan yang diketahui, antara pengamat dan yang diamati. Tradisi CS bukanlah tradisi kesarjanaan yang bebas nilai, melainkan tradisi yang punya komitmen bagi rekontruksi sosial dengan melibatkan diri pada kritik politik.

Jadi, CS bertujuan memahami dan mengubah struktur dominasi di mana-mana, namun secara khusus lagi dalam masyarakat kapitalis industrial. Mengenai ruang lingkup kajian budaya diungkapkan secara jelas dalam Barker , yakni 1 relasi antara kebudayaan dan kekuasaan, 2 seluruh praktik, institusi, dan sistem klasifikasi yang tertanam dalam nilai-nilai partikular, kepercayaan, kompetensi, kebiasaan hidup, dan bentuk-bentuk perilaku yang biasa dari sebuah populasi, 3 pelbagai kaitan antara bentuk-bentuk kekuasaan gender, ras, kelas, kolonialisme dan sebagainya dengan pengembangan cara-cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang biasa digunakan oleh agen-agen dalam mengejar perubahan, dan 4 pelbagai kaitan wacana di luar dunia akademis dengan gerakan sosial dan politik, para pekerja di lembaga kebudayaan, dan manajemen kebudayaan.

Saran Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai cultural studies, dari pengertian, ruang lingkup sampai contoh-contohnya. Agar kita dapat memanfaatkan pengetahuan yang kita dapat ini dengan benar. Ke-6 , Terjemahan Nurhadi. Bantul : Kreasi Wacana Ida, Rachmah. Ilmu Bahasa dalam Perspektif Kajian Budaya.

Sastra Universitas Negeri Malang, Hlm.

LA DISPUTE MARIVAUX PDF

Sejarah dan Perkembangan Culture Studies

Cultural studies hadir untuk mendamaikan klaim parsial tersebut dengan menghadirkan kajian-kajian lintas disiplin ilmu, inter dan multidisipliner dengan memasukkan teori dan metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk lebih mampu menjelaskan realitas sosial maupun representasinya dalam kehidupan sosial kontemporer. Budaya, seperti dinyatakan oleh Simon During dalam buku Cultural Studies: A Critical Introduction, bukanlah benda atau bahkan sistem, tetapi mengacu pada pengertian seperangkat transaksi, proses, mutasi, praktik, teknologi, institusi dan segala benda dan peristiwa yang diproduksi untuk menyatu dalam pengalaman hidup, makna-terberi given meanings , dan nilai-nilai. Culture is not a thing or even a system: it is a set of transactions, processes, mutations, practices, technologies, institutions, out of which things and events such as movies, poems or world wrestling bouts are produced, to be experienced, lived out and given meaning and value to in different ways within the unsystematic network of differences and mutations from which they emerged to start with. Pandangan ini mendapat penguatan dari Raymond Williams yang memaknai budaya culture sebagai pengalaman hidup, teks, praktik, makna-makna meanings yang dimiliki oleh dan telah menjadi aturan main di masyarakat.

DISTRESSOR EL8 MANUAL PDF

CULTURAL STUDIES TEORI DAN PRAKTEK CHRIS BARKER PDF

Caesar Syarif H. Latar Belakang Cultural studies merupakan paradigma baru dalam kajian ilmu sosial, memperkenalkan budaya dalam dimensi yang baru. Tidak hanya sebagai kreasi manusia dan hasil perilaku, tetapi menelaah pemahaman mendalam antara budaya dan kekuasaan yang mendasarinya. Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa saling berhubungan satu sama lain. Untuk itulah peran komunikasi dibutuhkan. Dalam hidup bermasyarakat orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain niscaya akan terisolasi dari masyarakatnya. Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah dikenal sangat heterogen dalam berbagai aspek, seperti: adanya keberagaman suku agama, bahasa, adat istiadat.

BEDSIDE CLINICS IN MEDICINE KUNDU PDF

Sedangkan metode, secara keseluruhan, cultural studies memilih metode kualitatif , dengan fokus pada makna budaya [2]. Mengikut karakter kualitatif yang beroperasi di ranah penemuan meanings makna, yakni makna budaya dari struktur pengalaman subjek, dan sejalan dengan pemikiran post-modernisme, maka karya-karya dan penelitian cultural studies menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis [3]. Metode berpikir ini merupakan dasar pijakan bagi karya cultural studies untuk menentukan metode juga teori yang sesuai. Beberapa metode yang sesuai bagi cultural studies, menurut catatan Akhyar Yusuf Lubis [4] , diantaranya adalah: satu Hermeneutika , dengan berbagai variannya, seperti semiotika. Metode yang diajukan oleh McGuigan ini meneliti hubungan antara ekonomi politik, representasi, teks, dan audiens bersama dalam keterlibatannya dengan kebijakan budaya.

Related Articles