BUDIDAYA ULAT SUTRA PDF

Pemberantasan hama penyakit dilaksanakan tepat waktu dengan dosis yang direkomendasikan. Hama yang paling sering menyerang tanaman murbei adalah : hama pucuk Glyphodes pulverulentalis Cara penanggulangan yang efektif yaitu dengan disemprot insektisida tiap tahun saat kekeringan. Daun menjadi mengkerut, kuncup daun membengkak, ruas pucuk daun memendek. Menurunkan konsumsi untuk ulat kecil. Pucuk yang cacat merupakan habitat yang cocok untuk serangga ini.

Author:Tushura Kijinn
Country:Fiji
Language:English (Spanish)
Genre:Video
Published (Last):13 June 2009
Pages:137
PDF File Size:5.32 Mb
ePub File Size:3.37 Mb
ISBN:823-5-11557-492-9
Downloads:4264
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zulugami



Keuntungan besar dapat diperoleh dengan mudah dari kokon yang disebut pelindung kepompong yang dihasilkannya. Apalagi bila diproses menjadi produk lain seperti benang bedah, tekstil bermutu tinggi, parasut. Berikut ini diberikan beberapa informasi dan petunjuk tentang budidayanya yang perlu diketahui.

Bibit ulat sutera dapat diperoleh dalam bentuk telur yang siap ditetaskan. Telur diperjualbelikan dalam bentuk lembaran kertas tempat telur-telur itu menempel, dan dalam bentuk kotak atau boks tempat telur-telur itu dikemas lepas.

Itu merupakan hasil persilangan bibit ulat sutera ras Jepang yang mempunyai produktivitas tinggi dengan bibit ulat sutera ras Cina yang relatif tahan terhadap penyakit.

Tiap boks biasanya berisi Harganya pun relatif lebih murah dibandingkan telur ulat sutera impor, sedangkan kokon yang dihasilkan bermutu tinggi. Satu kokon dapat menghasilkan lebih seribu meter serat benang sutera. Tahapan budidaya ulat sutera meliputi persiapan, pemeliharaan ulat kecil stadia I hingga stadia III , pemeliharaan ulat besar stadia IV hingga stadia V , dan pengokonan.

Masing-masing tahapan memerlukan penanganan yang berbeda-beda dan memerlukan perhatian penuh yang akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ulat sutera dan mutu kokon yang dihasilkan. Persiapan Pemeliharaan Persiapan yang perlu dilakukan sebelum dan pada saat melaksanakan pemeliharaan ulat sutera adalah persiapan ruangan dan alat-alat perlengkapan serta persiapan untuk penetasan telur.

Persiapan ruangan dan alat-alat perlengkapan Ruangan ini dibutuhkan untuk pemeliharaan ulat dan penyimpanan daun murbei. Suhu ruangan kelembapan maupun sirkulasi udara harus dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Bila suhu dan kelembapan tinggi, maka dilakukan pendinginan biasanya dengan menyiramkan air ke lantai dan mengatur sirkulasi udara.

Bila suhu rendah dan kelembapan tinggi, maka dilakukan pemanasan dan mengatur sirkulasi udara. Ruangan juga harus dijaga dari pengaruh langsung cahaya matahari dan angin serta gangguan-gangguan binatang seperti tikus, lalat, dan semut, terutama pada saat pemeliharaan ulat sedang berlangsung.

Di samping itu ruangan dan alat-alat perlengkapan harus didisinfeksi untuk mencegah penyakit pada saat pemeliharaan ulat sutera. Sebelum dilakukan disinfeksi, alat-alat perlengkapan yang dibutuhkan seperti sasag tampah , jaring, keranjang tempat daun murbei, rak-rak, dan berbagai peralatan pendukung lainnya harus dicuci bersih dan dijemur atau dikeringkan.

Disinfeksi ruangan dan alat-alat perlengkapan dilakukan dengan bahan dan cara sebagai berikut : a. Setelah penyemprotan, ruangan ditutup rapat sekurang-kurangnya 24 jam dan baru dibuka kurang lebih 24 jam sebelum penggunaan. Dengan Neo PPS Sebelum dilakukan disinfeksi, bahan-bahan yang tidak tahan basah seperti kertas-kertas, dan alat-alat yang terbuat dari logam, terlebih dahulu dimasukkan ke dalam ruangan yang hendak didisinfeksi.

Disinfeksi dilakukan dengan cara fumigasi, yaitu dengan cara memanaskan Neo PPS yang berupa tepung di atas semacam piring kaleng, yang diletakkan di atas anglo dengan api yang membara. Dosisnya adalah 60 gram untuk ruangan seluas 10 meter kubik, dan tepung Neo PPS tidak boleh langsung terkena api agar pengaruhnya untuk membasmi dengan asap yang dihasilkan tetap besar.

Ruangan dibiarkan tertutup sekurang-kurangnya 6 jam. Telur akan menetas dalam waktu 10 hingga 11 hari. Ini untuk memperlambat waktu penetasan telur yang tadinya akan menetas lebih cepat dan menunggu telur-telur yang perkembangannya agar terlambat.

Pada hari yang diperkirakan telur akan menetas, pagi-pagi boks diperiksa biasanya telur menetas pada pagi hari. Bila hanya sedikit ulatnya yang tampak dan sebagian besar telur belum memperlihatkan tanda untuk menetas, maka segera boks ditutup lagi, menunggu keesokan harinya, agar penetasan dapat terjadi pada waktu yang hampir bersamaan.

Kalau sudah banyak ulat kecil yang tampak dan sebagian besar telur sudah memperlihatkan tanda akan menetas, maka penutup segera dibuka agar telur segera mendapat cahaya. Ini mempercepat proses penetasan. Ulat yang menetas dari telur kurang lebih mm , berwarna hitam penuh bulu. Pemeliharaan Ulat Kecil Pemeliharaan ulat dimulai pada hari pertama saat telur menetas.

Ini merupakan pemeliharaan ulat dari stadia I hingga stadia III hari kesepuluh. Stadia I Setelah telur menetas hari pertama , boks telur yang sudah dibuka beserta ulat-ulat kecil dipindahkan ke tempat pemeliharaan baru berupa sasag ukuran kurang lebih 30 x 30 cm2 untuk satu boks telur.

Sebelum diberi makan pada pagi harinya, ditaburkan obat-obatan seperti ulat-ulat kecil ini diberi makan daun murbei yang halus bagian pucuk sebanyak kurang lebih gram. Setelah pemberian makan, sasag ditutup lagi dengan kertas parafin dengan rapi.

Sebaiknya sasag yang telah ditutup diletakkan pada rak-rak secara teratur. Pada hari kesatu hingga hari kedua tubuh ulat menjadi lebih gemuk, berwarna kehijau-hijauan dan bulunya menjadi jarang seolah-olah rontok. Oleh karena itu pada hari kedua diperlukan perluasan tempat kurang lebih dibutuhkan enam sasag. Ulat diberi makan pada pukul 9. Pada hari ketiga ulat kembali diberi makan pada pukul 9. Siang harinya tutup dibuka dan ulat sutera serta daun murbei diratakan.

Bila keadaan ruang lembab maka perlu ditaburi kapur kalau keadaannya kering, biasanya ditangguhkan hingga keesokan harinya pada pukul 6. Pada siang hingga sore hari pada hari keempat, bila ulat-ulat sudah bangun sudah berganti kulit segera ditaburi obat-obatan seperti seresan atau pafsole maupun kapur.

Setelah ganti kulit, maka ulat mulai memasuki stadia kedua. Sasag, 2. Kertas parafin, 4. Daun murbei yang disusun secara merata dengan mengatur ujung-pangkal ranting secara bolak-balik, yang kemudian ditutup dengan kain basah, dan terakhir dengan kertas parafin dengan rapi dan disusun dalam rak 2.

Stadia II Untuk membersihkan tempat pemeliharaan ulat setelah ganti kulit, dipasang jaring di atas tempat pemeliharaan. Di bagian atas jaring diberi daun murbei sebanyak 1. Dengan demikian ulat-ulat akan menempel pada jaring, dan pada saat ini sasag dapat dibersihkan sekaligus diperluas tempat pemeliharaannya kurang lebih 16 sasag. Pada hari kelima setelah tempat diperluas, ulat diberi makan daun murbei dari pucuk daun hingga lembar sebanyak 2.

Seperti pada stadia I, atas dan bawah tempat pemeliharaan diberi kertas parafin dan kain basah. Telur ulat sutra berbentuk pipih dengan panjang kira-kira 1,3 mm, lebar 1 mm, dan tebal 0,5 mm. Ulat diberi makan daun murbei sebanyak gram berikut ranting dari pucuk daun hingga lembar , dan diatur supaya merata dan tipis. Tengah hari tutup dibuka dan diatur lagi supaya rata dan diadakan perluasan tempat kurang lebih menjadi 24 sasag. Pada pagi hari ketujuh pukul 7. Pada pukul Dengan demikian ulat mulai memasuki stadia III.

Stadia III Bila semua sudah bangun, ulat dapat diberi makan daun murbei dari pucuk daun hingga lembar sebanyak 3. Malam harinya pada pukul Pada pukul 8. Selama stadia III, daun murbei yang diberikan mulai dari pucuk daun hingga lembar Peredaran udara sudah perlu diberikan pada ulat dan tempat pemeliharaan cukup ditutupi dengan kertas parafin saja. Bila suhu ruangan tinggi, kain yang sudah dibasahi tetap digunakan. Tempat pemeliharaan diperluas menjadi 36 sasag. Pada hari kesembilan pukul 8.

Kemudian pada sore harinya pukul Urutan lembaran daun murbei beserta rantingnya Pada hari kesepuluh ulat kembali tidur. Bila ada ulat yang belum tertidur, sebaiknya dipisah dengan memasang jaring dan diberi makan. Kira-kira dua jam kemudian jaring diangkat dan ulat dipindah ke sasag lain, diberi makan sampai tertidur, lalu ditaburi kapur.

Menjelang ulat tertidur, tempat pemeliharaan diperluas menjadi 50 sasag. Pemeliharaan Ulat Besar Pemeliharaan ulat besar dimulai pada hari kesebelas, dan dihitung sebagai hari pertama stadia IV dan diakhiri pada stadia V hari ketiga belas. Pemberian makan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pukul 7. Makanan yang diberikan berupa daun murbei berikut rantingnya kecuali pada hari terakhir hanya daun murbeinya saja.

ANEKDOTE ZUR SENKUNG DER ARBEITSMORAL TEXT PDF

Cara Budidaya Ulat Sutra

Pemeliharaan Ulat Sutera Kecil Sifat dari ulat sutera kecil berbeda dengan sifat ulat sutera besar. Ulat kecil mempunyai daya tahan yang lemah terhadap serangan hama dan penyakit, sehingga pada waktu pemeliharaan dapat menjaga kesehatan dan kebersihan tempat. Pertumbuhan ulat sutera kecil, terutama instar pertama sangat cepat, tetapi tidak tahan terhadap kekuranagan makanan. Dimana tempertatur, kelembaban, cahaya dan aliran udara dapat diatur.

MIGUEL SOUSA TAVARES MADRUGADA SUJA PDF

Cara Ternak Ulat Sutra – Tahapan Lengkap

Keuntungan besar dapat diperoleh dengan mudah dari kokon yang disebut pelindung kepompong yang dihasilkannya. Apalagi bila diproses menjadi produk lain seperti benang bedah, tekstil bermutu tinggi, parasut. Berikut ini diberikan beberapa informasi dan petunjuk tentang budidayanya yang perlu diketahui. Bibit ulat sutera dapat diperoleh dalam bentuk telur yang siap ditetaskan. Telur diperjualbelikan dalam bentuk lembaran kertas tempat telur-telur itu menempel, dan dalam bentuk kotak atau boks tempat telur-telur itu dikemas lepas. Itu merupakan hasil persilangan bibit ulat sutera ras Jepang yang mempunyai produktivitas tinggi dengan bibit ulat sutera ras Cina yang relatif tahan terhadap penyakit.

HEATCRAFT PSYCHROMETRIC CHART PDF

BUDIDAYA ULAT SUTERA

Cara atau Teknik Budidaya Ulat Sutra Cara atau teknik budidaya ulat sutra dibagi menjadi 5 lima tahapan. Tahapan pertama adalah persiapan kandang kemudian disusul dengan bibit, pemberian pakan, siklus hidup dan terakhir adalah proses pemeliharaan. Namun perlu kami ingatkan bahwa beternak atau budidaya ulat sutra merupakan kegiatan yang terbilang menjanjikan dari segi ekonomi. Hal ini mengingat bahwa harga jual benang sutra sangat tinggi.

Related Articles